Sebastianus Waryanto: 3 As for Happy Marriage

Saturday, January 9, 2010

3 As for Happy Marriage

(Cerita ini di ringkas dari khotbah dalam pernikahan di St Bernadette 09 Jan 2010, di tambah dan di ramu dengan pendapat penulis)

Family - The Complete First and Second SeasonsPagi ini aku meghadiri pernikahan teman choir di gereja St Bernadette, 12 Zion Rd, Singapore. Karena mereka berdua merupakan anggota Seraphim Choir, maka misa pun di dukung oleh Seraphim Choir. Paduan suara yang cukup lama berkarya di KKIS (Keluarga Katholik Indonesia di Singapura) itu cukup baik sekali mengiringi misa pemberkatan perkawinan.

Hingga pada saat khotbah, semua orang diam dan menyimak apa yang di sampaikan oleh Romo. Kali ini romo memberikan Tips 3 As for Happy Marriage. A yang pertama adalah Asih, yang ke dua Asah dan ayang ke tiga Asuh.

Asih
Dalam perkawinan hendaknya pasalangan saling mengasihi. Hendkanya kasih di jaga. Romo mengatakan, orang jatuh cinta biasanya dipenuhi dengan perasaan yang luar biasa. Bahkan kadang lupa makan dan tidur katanya. Namun cinta sejati katanya melebih perasaan, sebab perasaan itu naik dan turun, sedangkan cinta sejati adalah keputusan timbang sekedar perasaan.

Asah
Hendaknya pasangan saling mengasah dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan bersama. Mempertajam satu sama yang lain, menjadi lebih peka dan tajam semakin hari. lebih mengenal semakin hari. Berdialog merupakan suatu kebutuhan, bukan hanya pilihan. Dialog is a need and not a choice, kata Romo.

Asuh
Hendaknya pasangan saling mengasuh. Jikalau yang istri sedang tidak sabaran, hendaknya suami bisa lebih sabar mendengarkan, lebih bisa mengasuh. Sebaliknya, jika suami berada dalam situasi yang tidak mudah, hingga dalam keadaan bimbang, hendaknya istri bisa menjadi pengasuh juga buat suami. Demikian hendaknya suami istri saling mengasuh satu sama yang lain.

Akhirnya, Romo menutup khotbahnya dengan sebuah cerita: Pada suatu kali, ada sebuah pasangan sedang mendaki gunung bersama. Mereka rupanya masih cukup bersemangat, maklum mungkin pasangan baru masih sering ke sana kemari, bahkan naik gunungpun masih di jabanin. Hingga pada suatu jalan, pasangan ini harus tertahan karena ada sebuah besi menghalangi jalan mereka. Besi ini benar benar harus disingkirkan supaya mereka bisa melanjutkan perjalanan mendaki gunung sampai ke puncak.

Diambilnya palu yang ada di tas, lalu dipukul pukulkannya palu itu pada besi itu. Sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya palu ditu dipukulkannya. Namun ternyata besi itu masih cukup keras, hingga besi itu tidak bergeming, malahan palu itu patah pegangannya.

Karena palu pun tidak bisa mematahlan besi itu, maka di ambilah gergaji. Mulai pelan pelan besi itu di gergaji dengan sangat hati hati. Satu gesek, dua gesek, tiga gesek dan seterusnya. Rupanya, besi itu masih cukup keras buat sang gergaji, hingga gigi gigi gerjadi malahan semakin tumpul.

Bingung bagaimana mematahkan besi itu, akhirnya pasangan itu menyalakan api. Di bakarnya besi itu. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam di bakarnya besi itu. Besi itu tidak kuasa menahan panas api yang membakar besi itu. Lambat laun, besi itupun meleleh, dan akhirnya besi itupun patah. Mereka kini bisa melanjutkan lagi perjalanannya mendaki gungung hingga mereka sampai menuju puncak.

Lagi di katakan, dalam kehidupan keluarga, di butuhkan selalu bara api yang selalu menyala, terutama untuk melelehkan besi besi penghalang. Api itu tidak lain adalah api cinta. Hanya api cinta yang mampu melelehkan besi penghalang, dan bukan kekerasan seperti palu, atau gergaji yang giginya tajam. Tetapi justru nyala api cinta yang akan mematahkan penghalang itu, hingga mereka bisa mencapai tujuan bersama, mencapai puncak gunung pernikahan.

Salam Hidup Berlimpah.

0 comments: on "3 As for Happy Marriage"

Post a Comment